Selai DAMAR, Inovasi Selai Lezat Hasil Olahan Daun Mangrove dari Mahasiswa KKN UNDIP Tim II Tahun 2019

Berawal dari banyaknya tumbuhan mangrove di lingkungan Desa Asemdoyong dan rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dan potensi tumbuhan tersebut, mahasiswa KKN UNDIP Tim II Tahun 2019 mengajukan sebuah ide inovatif dan kreatif: mengolah daun mangrove menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. Arya Ksatria Fernanda Hendrawan, mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNDIP, berpendapat bahwa apabila daun mangrove dapat diolah menjadi teh, maka bagaimana jika daun tersebut diolah menjadi selai, karena selama ini jarang sekali ditemukan selai dari daun mangrove padahal banyak sekali selai yang berasal dari daun teh.

Ibu-ibu PKK yang Hadir Antusias Mencicipi Selai DAMAR

Ide tersebut diawali dari diskusi ringan dan melakukan percobaan mengenai rasa. “Kami awalnya iseng melakukan percobaan pada daun mangrove tersebut. Kita tahu betul manfaat mangrove, baik untuk alam maupun dikonsumsi untuk kesehatan,” ujar Arya. Selanjutnya, pada minggu kedua setelah pemberangkatan KKN dilakukan percobaan pembuatan selai daun mangrove. Hasilnya cukup memuaskan, di mana selai tersebut terasa lezat dan disukai oleh anak-anak. Olahan selai daun mangrove tersebut kemudian diberi nama ‘DAMAR’, yang berasal dari singkatan kata ‘daun mangrove’. Setelah memperoleh masukan dari Kepala Desa Asemdoyong yang berkeinginan untuk berinovasi menghasilkan olahan buah mangga, produk selai tersebut dibuat dengan variasi rasa berbeda dengan memanfaatkan buah mangga yang merupakan satu lagi produk unggulan Desa Asemdoyong. Sehingga, terdapat dua varian rasa yang dibuat, yaitu original dan mangga.

Pemaparan Langkah-langkah Pembuatan Selai DAMAR oleh Arya Ksatria

Untuk menyalurkan ide yang telah ia dapat, Arya melakukan pemberdayaan ibu-ibu PKK yang dikomando oleh istri Kepala Desa melalui program edukasi potensi dan manfaat serta pelatihan pengolahan daun mangrove menjadi produk selai, dimulai dari proses pembuatan, pengemasan, hingga pemasarannya. Program pelatihan tersebut dilaksanakan di Balai Desa Asemdoyong pada hari Selasa, 30 Juli 2019. Pelatihan dihadiri oleh ibu-ibu kader PKK, Kepala Desa beserta istrinya, dan beberapa perangkat desa lainnya. Ibu-ibu PKK yang hadir pada acara tersebut mencicipi selai daun mangrove yang telah dibuat, dan salah satunya mengatakan bahwa produk hasil olahan daun mangrove tersebut sangat lezat, namun dalam pembuatannya masih terdapat kekurangan, yaitu selai tersebut masih terasa sedikit kasar.

Selain memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, diharapkan program ini dapat menjadi media untuk memperkenalkan tumbuhan mangrove berikut potensi dan manfaatnya terhadap masyarakat Desa Asemdoyong. Arya berharap gagasannya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat dan Pemerintah Desa untuk peningkatan ekonomi kreatif masyarakat. Gita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *